Kita sering dipaksa memilih dua kubu yang sebenarnya tidak perlu dipertentangkan: tradisi atau teknologi, akar atau masa depan, rasa atau logika. Pilihan semacam itu membuat percakapan menjadi dangkal. Tradisi dianggap selalu suci, teknologi dianggap selalu dingin; atau sebaliknya, masa lalu dianggap menghambat dan segala yang baru dianggap pasti lebih baik.
TEMANA menawarkan cara pandang lain: alat tidak berjalan sendirian. Keris, buku, komputer, dan kecerdasan buatan memperoleh arah dari manusia yang memegangnya.
Keris bukan akhir perjalanan
Dalam kebudayaan Jawa, keris dapat dibaca sebagai karya, pengetahuan bahan, disiplin empu, simbol tanggung jawab, dan cermin batin pemiliknya. Namun keris bukan tujuan akhir. Mengumpulkan benda tanpa memperdalam watak hanya memindahkan perhatian dari etalase modern ke etalase tradisional.
Yang lebih penting adalah pertanyaan yang dibawanya: apakah seseorang semakin mampu menahan diri, membaca keadaan, menghormati kehidupan, dan bertindak dengan tepat?
Keris yang disarungkan mengingatkan bahwa kekuatan tidak selalu perlu dipamerkan. Ada kemampuan yang justru tampak dari pengendalian.
Kode juga membawa watak pembuatnya
Hal yang sama berlaku pada teknologi. Sebuah sistem digital dapat memudahkan layanan, menjaga jejak data, dan membuka kesempatan ekonomi. Sistem yang sama juga dapat membuat orang bergantung, mengumpulkan data berlebihan, atau menyembunyikan keputusan yang tidak adil.
Kodenya mungkin rapi. Pertanyaan etiknya tetap berada pada manusia:
- siapa yang memperoleh manfaat;
- siapa yang mungkin tertinggal;
- siapa yang memiliki data;
- bagaimana kesalahan dipulihkan;
- apakah pengetahuan pengelolaan ikut diwariskan.
Karena itu literasi digital tidak cukup berarti bisa menggunakan aplikasi. Literasi digital adalah kemampuan memahami konsekuensi penggunaan alat.
Teknologi memperbesar kemampuan manusia. Jika niatnya baik tetapi caranya ceroboh, kesalahan ikut membesar. Jika niat dan caranya matang, manfaat dapat menjangkau lebih jauh.
Akar memberi arah, teknologi memperluas jangkauan
Tradisi menyimpan pengalaman panjang tentang batas, hubungan, kesabaran, dan tanggung jawab. Teknologi menyediakan kecepatan, daya hitung, jaringan, dan kemampuan mengulang proses. Keduanya dapat saling melengkapi.
Seorang perajin busana Jawa, misalnya, tidak perlu mengubah produknya menjadi barang generik agar terlihat modern. Rumah digital justru dapat menjelaskan cerita bahan, tata pakai, filosofi, ukuran, cara perawatan, dan manusia di balik karya. Teknologi menjadi jembatan agar identitas lebih mudah dipahami, bukan mesin yang menyeragamkan identitas.
Begitu pula dalam pelayanan publik. Nilai pengabdian memberi arah, sedangkan sistem membantu pelayanan menjadi cepat, terukur, aman, dan dapat ditelusuri. Digitalisasi tanpa pengabdian mudah berubah menjadi pemindahan antrean dari meja ke layar. Pengabdian tanpa sistem mudah bergantung pada individu dan hilang ketika orangnya berpindah.
Menjadi manusia di antara dua zaman
Tantangan kita bukan mempertahankan masa lalu secara utuh atau mengejar masa depan tanpa menoleh. Tugas kita adalah belajar bahasa baru tanpa kehilangan nilai yang membuat hidup layak dijalani.
Itu membutuhkan keluwesan sekaligus keteguhan: cukup terbuka untuk belajar, cukup berakar untuk tidak terseret, dan cukup rendah hati untuk terus memeriksa dampak keputusan sendiri.
Tradisi bukan lawan digitalisasi. Tradisi dapat menjadi kompasnya. Teknologi bukan pengganti manusia. Ia adalah pengungkit yang membuat watak manusia tampak lebih besar.
Pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa tua pusaka yang kita miliki atau seberapa canggih sistem yang kita bangun. Yang menentukan adalah manusia macam apa yang tumbuh ketika memegang keduanya.
