Ada kenangan masa kecil yang tidak selesai ketika pertunjukan usai. Suara pengiring, gerak penari, dan wajah-wajah topeng dapat tinggal begitu lama dalam ingatan. Dalam pembukaan podcast ini, saya bercerita tentang masa SD: pernah pergi menonton lengger di desa tetangga tanpa berpamitan, sampai dicari dan dimarahi orang tua.
Bertahun-tahun kemudian, ketertarikan itu membawa saya duduk bersama Kang Bondet Bowo, perajin topeng lengger asal Sruni, Wonosobo. Kali ini bukan hanya untuk menikmati pertunjukannya, melainkan belajar mendengar cerita dari orang yang membuat topengnya.
Apa yang sebenarnya diwariskan melalui sepotong kayu yang diberi wajah? Bagaimana sebuah karya menjadi tempat mencari penghidupan sekaligus merawat budi pekerti? Percakapan kami bergerak di antara pertanyaan-pertanyaan itu.
Tonton podcast lengkap bersama Kang Bondet Bowo di YouTube.
Wajah topeng yang terus bertumbuh
Kang Bowo menggambarkan topeng Wonosobo sebagai kesenian yang terus berproses. Karakter-karakter baru dapat lahir dari gagasan, keinginan, dan kreativitas generasi berikutnya. Dalam penuturannya, warisan lama dan penciptaan baru tidak harus saling meniadakan.
Ia juga menghubungkan sejumlah karakter dengan cerita Panji serta gambaran manusia dalam kehidupan masyarakat. Penjelasan ini membuka cara membaca topeng yang lebih luas: bukan sekadar benda yang bagus dipajang, tetapi bagian dari hubungan antara cerita, gerak tari, pengiring, dan orang yang menghidupkan pertunjukan.
Bagi saya, di sinilah menariknya tradisi yang masih dijalani. Kita dapat menghargai bentuk yang diwariskan sambil tetap bertanya apa yang sedang ingin disampaikan oleh pembuat dan pelakunya hari ini.
Topeng sebagai pengingat tentang batas
Salah satu penjelasan Kang Bowo yang paling membekas adalah pemaknaan topeng sebagai pembatas. Ia menyebut ungkapan tutuping pangroso dan batesing paningal: wajah tertutup kayu, sementara pandangan dibatasi lubang mata topeng.
Dalam pembacaannya, batas itu tidak hanya berkaitan dengan bentuk benda. Ia menjadi jalan untuk membicarakan pengendalian diri, tata pergaulan, dan ukuran dalam berkesenian. Pertunjukan tidak semata-mata mengejar keramaian; ada hubungan antarmanusia yang perlu dijaga.
Kang Bowo juga menuturkan hubungan topeng dengan bentuk-bentuk pertunjukan yang lebih dahulu dikenal masyarakat. Cerita tersebut saya tempatkan sebagai penuturan seorang pelaku budaya, bukan penetapan tunggal tentang sejarah asal-usul lengger.
Pelajaran yang saya bawa pulang sederhana: keindahan tidak harus lahir dari kebebasan tanpa batas. Kesediaan menjaga batas justru dapat membuat perjumpaan lebih nyaman dan bermartabat.
Tontonan yang membawa tuntunan
Obrolan kami kemudian beralih ke pertemuan, budi pekerti, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Bagi Kang Bowo, ruang berkesenian dapat menjadi tempat belajar tata cara, unggah-ungguh, dan kendali atas diri sendiri.
Pemaknaan spiritual itu merupakan bagian dari cara Kang Bowo memahami pekerjaannya. Ia tidak sedang sekadar membahas hasil ukiran, tetapi juga sikap orang yang berkarya dan orang yang hadir dalam pertunjukan.
Dari sini saya melihat pekerjaan penting bagi generasi penerus. Menjaga kesenian tidak cukup dengan membuat orang hafal nama topeng. Cerita dan nilai yang menyertainya juga perlu dijelaskan dalam bahasa yang dapat dipahami anak-anak hari ini.
Kalau simbol terus ditampilkan tetapi maknanya tidak pernah dibicarakan, generasi berikutnya mungkin mengenali wajahnya tanpa mengenali pesan yang ingin disampaikan.
Ketulusan pembuat dan kesan hidup pada karya
Ketika pembicaraan menyentuh anggapan mistis tentang topeng, Kang Bowo membawa perhatian kembali kepada pembuatnya. Ia menggunakan bahasa spiritual untuk menjelaskan ketulusan, keterlibatan batin, dan kepuasan dalam berkarya. Menurutnya, proses itulah yang dapat menghasilkan topeng dengan karakter kuat, sampai terasa hidup bagi orang yang melihatnya.
Dalam artikel ini, ungkapan tentang roh atau nyawa karya dibaca sebagai penuturan dan pemaknaan narasumber. Ungkapan tersebut bukan bukti bahwa suatu benda memiliki kemampuan gaib.
Ada hal yang bisa dipelajari tanpa harus menyamakan seluruh keyakinan: pembuat tidak selalu memulai pekerjaannya dari pertanyaan berapa harga jualnya. Kang Bowo ingin karyanya terwujud dengan baik terlebih dahulu, lalu orang lain dapat menilai.
Sikap itu tidak berarti tenaga perajin tidak perlu dihargai. Justru perhatian, waktu, dan pengetahuan yang masuk ke dalam sebuah karya patut menjadi bagian dari cara kita menghargainya.
Sowan, leluhur, dan ingatan warga Sruni
Kang Bowo menceritakan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjalankan tradisi sowan sebelum kegiatan kesenian tertentu. Ia menjelaskan praktik tersebut dalam kerangka penghormatan kepada pendahulu dan kebiasaan yang diwariskan di lingkungan keseniannya.
Ia juga mengenang almarhum bapaknya yang membuat topeng untuk disumbangkan kepada kelompok kesenian setempat, menggunakan kayu dari kawasan makam yang diceritakannya. Hubungan antara asal bahan, karya, dan tempat itu menjadi bagian penting dari penjelasannya tentang penghormatan.
Saya menangkap sebuah pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: setelah menerima tempat tinggal, cerita, dan karya dari orang-orang sebelum kita, apa yang kita lakukan untuk merawatnya?
Cerita keluarga dan tradisi lisan seperti ini berharga untuk didokumentasikan. Namun, rincian sejarah tetap perlu diperiksa melalui sumber lain apabila hendak digunakan sebagai kepastian sejarah. Menghormati penuturan tidak berarti menutup ruang penelitian.
Budaya juga perlu menghidupi pembuatnya
Bagian percakapan yang terasa sangat membumi adalah ketika Kang Bowo berbicara tentang penghidupan. Ia mengakui bahwa perjalanan sebagai pembuat topeng tidak selalu lapang secara ekonomi. Meski demikian, ia merasa menemukan kenyamanan dan ketenteraman dalam berkarya.
Di sini pelestarian budaya bertemu persoalan nyata. Perajin membutuhkan bahan, waktu, pembeli, dan kesempatan mengenalkan karya. Kekaguman masyarakat akan lebih berarti jika disertai cara menghargai pekerjaan tersebut secara layak.
Masyarakat pun tidak harus menjadi penari untuk mengambil bagian. Membeli karya dengan menghargai pembuatnya, mempelajari cerita di baliknya, dan mengenalkan perajinnya kepada orang lain merupakan bentuk dukungan yang dapat dilakukan.
Hubungan budaya dan UMKM karena itu tidak perlu dipertentangkan. Tantangannya adalah membangun penghidupan tanpa memutus cerita dan nilai yang membuat karya itu berarti.
Paguyuban Kriya Wonosobo dan ruang bertemu karya
Kang Bowo turut bercerita tentang Paguyuban Kriya Wonosobo (PKW). Dalam percakapan ini, ia menggambarkan semangat mempertemukan orang-orang kreatif, mengadakan pameran, memberikan edukasi, serta mencari jalan pemasaran bagi karya anggota.
Ia menyebut pengalaman pameran dan sejumlah rencana kegiatan maupun kerja sama. Rencana-rencana itu adalah gambaran pada saat wawancara berlangsung, bukan pengumuman bahwa seluruhnya telah terlaksana atau masih tersedia saat artikel ini dibaca.
Benang merahnya jelas: karya perlu ruang perjumpaan. Perajin memerlukan kesempatan bercerita, masyarakat memerlukan kesempatan belajar, dan keduanya membutuhkan jalan untuk saling menemukan.
Teknologi dapat membantu melalui katalog digital, dokumentasi proses, informasi pemesanan yang jelas, dan pengarsipan cerita. Dalam podcast, kami juga membuka kemungkinan saling membantu di bidang website dan katalog UMKM. Percakapan itu merupakan ajakan kolaborasi, bukan pengumuman kerja sama yang sudah disepakati.
Menjadi duta lewat kemampuan bercerita
Harapan Kang Bowo untuk generasi muda Wonosobo tidak berhenti pada panggung atau gelar duta wisata. Ia menginginkan anak-anak Wonosobo mampu bercerita tentang daerahnya di mana pun berada: kesenian, bahasa, ciri khas, dan kisah masyarakatnya.
Gagasan ini terasa dekat. Mewakili daerah dapat dimulai dari kesediaan mengenal orang yang berkarya di sekitar kita. Mendatangi perajin, mendengarkan penuturannya, lalu menceritakannya kembali dengan jujur adalah langkah kecil yang dapat diteruskan banyak orang.
Tidak semua orang harus memahat topeng. Tetapi semakin banyak orang memahami proses dan ceritanya, semakin luas pula ruang bagi karya itu untuk dihargai.
Dari belajar menjadi ikut merawat
Pada penutup percakapan, saya menghubungkan pembelajaran ini dengan gagasan dalam TEMANA: Perjalanan Membentuk Manusia di Tengah Perubahan Peradaban. Ada rasa, hening, proses nyantrik, dan tanggung jawab untuk menjadi pamomong bagi generasi berikutnya.
Hubungan ini adalah refleksi saya sebagai penulis, bukan pernyataan bahwa Kang Bowo mewakili seluruh gagasan dalam buku. Bagi saya, perjumpaan dengannya mengingatkan bahwa belajar tidak selesai ketika kita memperoleh istilah atau penjelasan baru. Belajar berlanjut ketika pengetahuan itu membantu kita merawat manusia dan pekerjaannya.
Kang Bowo membuat topeng. Orang lain menari, mendokumentasikan, mengajarkan, atau membantu mempertemukan karya dengan pembelinya. Perannya berbeda, tetapi dapat saling menguatkan.
Pada akhirnya, yang ingin diteruskan bukan hanya wajah yang dipahat pada kayu. Ada ketekunan pembuatnya, ingatan masyarakatnya, dan kesempatan bagi generasi berikutnya untuk belajar sekaligus mencari penghidupan.
Tonton dan pelajari percakapannya
- Karakter topeng yang terus berkembang — sekitar 01:52.
- Batas, keindahan, dan kendali dalam pertunjukan — sekitar 03:04.
- Ketulusan pembuat dan pemaknaan karya — sekitar 09:33.
- Tradisi sowan dan penghormatan kepada pendahulu — sekitar 14:22.
- Paguyuban Kriya Wonosobo dan penghidupan kreatif — sekitar 23:37.
- Harapan agar anak Wonosobo mampu bercerita tentang daerahnya — sekitar 27:24.
- Refleksi TEMANA dan proses menjadi pamomong — sekitar 33:45.
Catatan editorial: Artikel ini merupakan adaptasi tematik dari transkrip podcast Sunan Patoman bersama Kang Bondet Bowo yang disediakan untuk penyuntingan, bukan transkrip kata demi kata. Penanda waktu bersifat perkiraan berdasarkan transkrip. Penuturan spiritual, ingatan keluarga, dan pandangan budaya diatribusikan kepada narasumber; refleksi penulis dibedakan dari penuturan tersebut. Rincian nama dan tahun yang tidak jelas dalam transkrip tidak dijadikan kepastian. Untuk mendengar konteks percakapan, silakan menyimak video sumber.
