Jagongan, menyambung rasa, dan lahirnya sebuah topeng karya Kang Bowo.
Ketika datang kepada Kang Bowo, saya tidak membawa gambar rancangan. Saya tidak menyiapkan sketsa wajah untuk ditiru atau daftar warna yang harus dipenuhi. Hampir seluruh bentuk topeng saya serahkan kepada beliau. Saya membawa suatu maksud, ketertarikan pada karya beliau, dan kesediaan untuk jagongan.
Saya sempat menyebut bahwa saya menyukai motif lung-lungan. Selebihnya, saya ingin Kang Bowo bekerja dengan rasa dan pengetahuannya sendiri. Saya ingin melihat bagaimana beliau menerjemahkan maksud yang saya bawa menjadi sebuah karya.
Ketika melihat hasilnya, saya gumun. Kebebasan itu menghasilkan wajah yang terasa dekat. Ada hal-hal yang tidak saya rinci dalam pesanan, tetapi justru hadir dalam penjelasan pembuatnya. Saya kemudian mendengarkan cerita di balik bentuk, warna, dan ornamen yang beliau pilih.
Dari situlah tulisan ini berangkat: pengalaman dua orang yang bertemu dalam percakapan, lalu salah satunya memberi bentuk kepada sesuatu yang belum seluruhnya mampu dijelaskan oleh yang lain.
Jagongan sebelum sebuah wajah
Memberikan keleluasaan kepada pembuat berarti menerima bahwa hasilnya akan membawa pengetahuan dan pertimbangan beliau. Saya perlu mendengar, memberi ruang, dan membiarkan keterampilan yang selama ini beliau jalani ikut menentukan bentuk karya.
Dalam jagongan, saya menyampaikan kesukaan terhadap lung-lungan. Menariknya, menurut cerita Kang Bowo, motif itu juga sudah terpikir oleh beliau. Sebuah detail kecil menjadi titik pertemuan: saya menyukai bentuknya, sementara beliau mempunyai cara untuk mengolahnya dan cerita untuk menjelaskan maknanya.
Saya datang membawa karsa. Kang Bowo membawa kemampuan untuk memberinya bentuk.
Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan hubungan kami dalam pesanan ini. Karsa saya masih berupa maksud dan keinginan. Di tangan beliau, maksud itu bertemu dengan pengalaman mengerjakan kayu, menyusun wajah, dan mempertemukan bagian-bagian sebuah topeng.
Dalam cerita Kang Bowo, anak beliau sempat melihat kemiripan tertentu dengan teman bapaknya. Beliau kemudian menjelaskan bahwa struktur wajah topeng memang memperoleh inspirasi dari saya. Bahkan bentuk rambut yang keriting pada bagian ujung, menurut penuturan beliau, terinspirasi oleh rambut saya.
Saya menerima penjelasan itu sebagai pembacaan seorang pembuat. Wajah tersebut sudah diolah melalui bahasa topeng: mata yang lebar, hidung yang tegas, kumis, mulut, serta rambut dengan bentuknya sendiri. Kedekatannya hadir melalui pilihan bentuk, tanpa perlu menjadi salinan realistis wajah seseorang.
Judul “Ketika Topeng Membaca Pemiliknya” lahir dari pengalaman itu. Kata membaca saya pakai untuk menggambarkan perhatian Kang Bowo terhadap orang yang memesan: beliau mendengar maksudnya, mengenali rupanya, lalu mengolah keduanya melalui kemampuan berkarya.
Struktur wajah dan bagian rambut, menurut penuturan Kang Bowo, mendapat inspirasi dari pemesan. Bentuk itu kemudian diolah menjadi bahasa rupa sebuah topeng.
Wibawa yang sumeh, ketegasan yang disimpan
Wajahnya dominan biru. Matanya terbuka lebar, kumisnya hitam, hidungnya menonjol, dan bibir merahnya memperlihatkan gigi. Garis-garis tegas hadir bersama ornamen berwarna. Dari depan, saya melihat wajah yang kuat sekaligus mempunyai kesan terbuka untuk diajak berhubungan.
Menurut Kang Bowo, biru dipilih agar wajah topeng ini tidak terasa seram. Beliau menginginkan wibawa yang tetap sumeh: mempunyai ketegasan, tetapi mudah diterima dan disukai. Penjelasan ini beliau berikan mengenai topeng yang dibuat untuk saya, sehingga saya memahaminya dalam konteks karya tersebut.
Saya menyukai gagasan itu. Di dalam pergaulan, kita sering berhadapan dengan kebutuhan untuk bersikap tegas. Ada batas yang harus dijaga, ada pekerjaan yang perlu diselesaikan, dan ada keputusan yang tidak selalu menyenangkan semua orang. Namun, ketegasan juga dapat disampaikan dengan wajah dan tutur yang memberi ruang kepada orang lain.
Ketika seseorang merasa nyaman mendekat, kita mempunyai kesempatan mendengar persoalannya lebih utuh. Orang dapat datang sebelum kesulitannya semakin berat, bertanya sebelum salah memahami, atau mengakui kekeliruan sebelum menutupinya. Saya membaca kesan sumeh itu sebagai pengingat bagi orang yang ingin menjalani laku pamomong.
Kang Bowo juga menjelaskan unsur pada bagian samping yang menghadap ke belakang. Dalam penuturannya, manusia tetap perlu mempunyai ketegasan dan daya keras, tetapi tidak semuanya harus diperlihatkan di depan. Saya menangkap pesannya melalui ungkapan: duwe ketegasan, nanging diungkurke; ora perlu dipeper.
Kemampuan menjaga batas tetap diperlukan. Namun, kita dapat memilih kapan ketegasan itu perlu bekerja dan bagaimana menggunakannya. Ia tidak harus memenuhi setiap perjumpaan dengan ancaman. Wajah yang terlebih dahulu kita berikan kepada orang lain dapat berupa kesediaan mendengar dan berbicara dengan baik.
Saya membacanya sebagai latihan mengendalikan diri. Ada keberanian yang perlu disimpan sampai saatnya diperlukan. Ada kekuatan yang justru diuji melalui kemampuan untuk menahan diri dan menimbang akibatnya.
Bagian samping membantu melihat ornamen yang dijelaskan Kang Bowo sebagai pengingat tentang ketegasan yang ditempatkan di belakang. Makna ini mengikuti penuturan pembuat mengenai karya tersebut.
Lung-lungan, pancer, dan cita-cita luhur
Menurut penuturan Kang Bowo, lung-lungan pada karya ini membawa gambaran perjalanan kehidupan yang berliku. Saya merasa dekat dengan pembacaan itu. Hidup mempunyai belokan, perubahan rencana, dan keadaan yang membuat kita harus mencari jalan lain.
Ada saat ketika sesuatu yang kita kira akan berjalan mudah justru meminta kesabaran panjang. Ada pula pertemuan atau kesempatan yang datang setelah rencana semula berubah. Dari pengalaman-pengalaman seperti itu, saya belajar bahwa kesungguhan juga perlu disertai keluwesan untuk menghadapi keadaan.
Bentuk yang menjalar dan berkelok mengingatkan saya pada perjalanan tersebut. Kita tidak selalu dapat memilih semua keadaan yang datang, tetapi masih dapat menimbang sikap yang akan kita ambil. Dalam setiap belokan, ada kesempatan untuk belajar mengenali arah dan memperbaiki cara berjalan.
Pada bagian tengah dahi, Kang Bowo menjelaskan adanya pancer. Beliau menghubungkannya dengan hening dan arah ke atas: kepada Tuhan, kepada Yang Luhur. Saya menerima penjelasan itu sebagai pengingat akan pusat tempat manusia kembali ketika perhatian dan keinginannya mulai tercerai-berai.
Bagi saya, hening menyediakan waktu untuk mendengar diri sendiri dengan lebih jujur. Apakah saya sedang menolong karena memang ada orang yang membutuhkan? Apakah saya sedang mempertahankan pendapat karena mempunyai alasan, atau karena belum rela mengakui kekeliruan? Pertanyaan seperti itu memerlukan ruang yang tidak selalu tersedia ketika saya terus bereaksi.
Lung-lungan dan pancer kemudian terasa saling berbicara. Lung-lungan mengingatkan bahwa jalan dapat berliku. Pancer mengingatkan agar liku itu tidak membuat saya kehilangan arah. Saya tetap perlu kembali kepada sesuatu yang lebih luhur daripada keinginan memenangkan setiap keadaan.
Dalam penjelasan Kang Bowo mengenai karya ini, lis emas membawa perlambang ningrat dan cita-cita luhur. Saya menerimanya sebagai tuntutan kepada keluhuran laku: bagaimana bertutur, memperlakukan orang, dan menjaga tanggung jawab yang sudah dipercayakan.
Saya tidak menjadikan perlambang itu sebagai keterangan tentang garis keturunan atau kedudukan saya. Nama Sunan Patoman sendiri saya gunakan sebagai nama berkarya dan pengingat laku. Penjelasan tentang emas justru membuat saya memikirkan pekerjaan yang lebih berat: membuat sikap sehari-hari sanggup mengikuti cita-cita yang dilekatkan pada sebuah simbol.
Jika simbolnya luhur, lakunya yang harus mengejar. Kalimat itu saya simpan untuk diri sendiri. Warna dapat terlihat indah sejak karya selesai, sementara kesabaran, kejujuran, dan tanggung jawab perlu dikerjakan berulang kali dalam kehidupan.
Lung-lungan, lis emas, dan bagian tengah dahi dilihat lebih dekat. Penjelasan maknanya di sini berasal dari jagongan tentang satu karya bersama Kang Bowo.
Nalika dadi paugeraning wong akeh
Salah satu penjelasan Kang Bowo yang paling saya simpan berkaitan dengan keadaan ketika seseorang menjadi paugeraning wong akeh: ketika orang lain mulai menjadikan ucapan, tindakan, atau keputusan seseorang sebagai pegangan.
Saya menerima pesan itu sebagai pengingat untuk berhati-hati terhadap pengaruh yang kita bawa. Hal tersebut dapat terjadi di tempat kerja, dalam keluarga, atau dalam pergaulan. Ketika seseorang mempercayai pertimbangan kita, ada akibat yang ikut tumbuh dari kepercayaan tersebut.
Sebuah ucapan dapat membuat orang berani mengambil keputusan. Sebuah arahan dapat menentukan pekerjaan banyak orang. Cara kita menanggapi keluhan dapat membuat seseorang merasa didengar atau justru enggan meminta bantuan lagi. Pengaruh itu kadang hadir dalam kejadian kecil yang mudah dianggap sepele.
Semakin banyak orang menjadikan ucapan kita pegangan, semakin sedikit kita boleh memperlakukan ucapan sebagai sesuatu yang ringan.
Saya tidak menganggap penjelasan itu sebagai penetapan bahwa saya telah mencapai kedudukan tertentu. Saya menerimanya sebagai bekal: ketika ada orang yang mempercayai pekerjaan atau kata-kata saya, saya harus semakin bersedia menimbang, mendengar, dan memperbaiki kekeliruan.
Topeng ini kemudian memperoleh tempat sebagai pengingat terhadap tutur, keputusan, ketegasan, pengayoman, dan arah. Saya dapat melihat wajahnya yang berwibawa dan sumeh, lalu bertanya apakah cara saya memperlakukan orang sudah mempunyai keseimbangan yang serupa.
Dalam keadaan sibuk atau ketika emosi sedang tinggi, pengingat seperti itu mempunyai guna yang sederhana. Ia memberi kesempatan untuk berhenti sebentar sebelum berbicara. Saya perlu memastikan bahwa sesuatu yang akan saya ucapkan memang dapat saya pertanggungjawabkan setelah suasana kembali tenang.
Menyambung rasa dan Jumat Pahing
Menurut penuturan Kang Bowo, sebelum penatahan topeng ini melalui suatu proses persiapan di sebuah sendang selama lebih dari seminggu. Beliau juga menyebut pengerjaan topeng ini sebagai salah satu karya yang dibawanya melalui laku spiritual yang matang.
Saya mencatatnya sebagai penuturan pembuat tentang proses berkaryanya. Dalam bahasa Kang Bowo, proses itu berhubungan dengan menyambung rasa: upaya mengenali maksud pemesan melalui perhatian batin yang beliau jalani, agar rasa pembuat dan maksud orang yang memesan memperoleh bentuk yang selaras.
Saya menerima penjelasan tersebut sebagai bagian dari cara beliau menyiapkan diri dan memberi perhatian kepada karya. Pengalaman spiritual itu beliau ceritakan dari lakunya sendiri. Saya dapat menghormatinya sambil menjaga agar catatan saya tetap mengikuti apa yang beliau sampaikan.
Ada sisi manusiawi yang sangat dekat di dalamnya. Ketika seorang pembuat mendengar dengan sungguh-sungguh, ia dapat menangkap hal yang belum tersusun menjadi daftar permintaan. Ia memperoleh ruang untuk menimbang kesan, maksud, dan hubungan yang tumbuh dalam percakapan. Pada pesanan ini, saya merasakan kedekatan tersebut ketika melihat hasilnya dan mendengarkan penjelasan beliau.
Menurut cerita Kang Bowo, setelah tahap persiapan itu beliau mulai menatah pada Jumat Pahing. Status yang dibagikan bersama foto pengerjaan juga menyebut Jumat Pahing sebagai awal pembuatan. Saya mencatat hari tersebut sebagai bagian dari riwayat karya dan pilihan waktu yang mempunyai arti bagi pembuatnya.
Foto tahap ukir memperlihatkan wajah di antara serpihan kayu dan alat kerja. Mata, hidung, pipi, serta mulut mulai mempunyai bentuk, sementara garis ornamen tampak pada permukaannya. Melihat foto itu membuat saya membayangkan perhatian yang dibutuhkan untuk menerjemahkan percakapan menjadi bentuk yang dapat disentuh.
Dokumentasi yang tersedia memperlihatkan tahap ukir dan hasil akhir. Galeri di halaman ini mengikuti bagian proses yang terekam tersebut. Cerita tentang persiapan dan pilihan waktu melengkapinya melalui penuturan Kang Bowo, sehingga riwayat visual dan riwayat lisan dapat dibaca berdampingan.
Kuas sederhana, tangan yang telah belajar
Ada bagian kecil dari cerita pembuatan yang membuat saya semakin gumun: kuas yang digunakan Kang Bowo. Dari pengamatan dan cerita yang saya terima, kuas itu sudah rusak dan jauh dari gambaran alat mahal yang mungkin kita bayangkan ketika melihat hasil pewarnaan yang indah.
Saya memikirkan jarak antara penampilan alat dan hasil di tangan orang yang terbiasa menggunakannya. Kalau menilai dari kondisi kuas saja, saya mungkin akan meragukannya. Namun, pengalaman pembuat membuat alat tersebut tetap menghasilkan garis dan bidang warna yang dapat kita lihat pada topeng ini.
Alat yang baik dapat membantu. Tangan yang telah belajar tetap membawa peran yang tidak dapat dibeli bersamaan dengan alat itu. Ada kebiasaan memperkirakan tekanan, kesabaran mengulang, dan perhatian terhadap bagian kecil yang tumbuh melalui pekerjaan yang dijalani.
Saya tidak menerima cerita kuas itu sebagai anjuran untuk mempertahankan alat yang sudah tidak nyaman atau tidak layak digunakan. Saya melihatnya sebagai pengingat untuk menghargai kemampuan manusia secara lebih utuh. Kemewahan perlengkapan hanya memperlihatkan sebagian kecil dari apa yang sanggup dikerjakan seseorang.
Hal tersebut terasa dekat dengan pekerjaan saya di dunia teknologi. Perangkat dan alat kerja mempunyai peran besar, tetapi memilihnya tetap memerlukan pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman terhadap kebutuhan. Saya perlu terus belajar menggunakan alat dengan baik, sebagaimana saya menghargai tangan seorang perajin yang mengenal pekerjaannya.
Riwayat yang dijaga, guna yang diteruskan
Setelah melihat karya ini dan mendengar ceritanya, saya mulai membayangkannya sebagai sesuatu yang dapat dirawat dan diteruskan. Kata pusaka bagi saya membawa pekerjaan yang panjang: menjaga benda, mencatat riwayat, merawat makna, dan memberi kesempatan agar generasi berikutnya memperoleh guna darinya.
Kang Bowo dapat menyelesaikan topengnya. Saya belum selesai dengan tanggung jawab setelah menerimanya.
Saya perlu menjaga cerita tentang siapa yang membuatnya, bagaimana pesanan bermula, dan bagaimana pembuat menjelaskan pilihan bentuknya. Penjelasan beliau harus dicatat dengan jujur. Bila ada istilah yang belum saya pahami dengan tepat, saya perlu kembali bertanya agar riwayat karya tidak berubah mengikuti dugaan saya sendiri.
Guna sebuah karya juga dapat bertambah melalui perjumpaan. Foto dan tulisan memberi orang lain kesempatan untuk melihat prosesnya. Percakapan dapat membuka minat seseorang kepada kesenian. Jika suatu hari topeng ini dihidupkan melalui tari atau menjadi pintu anak-anak mengenal karya perajin, riwayatnya memperoleh tempat dalam pengalaman orang lain.
Kemungkinan-kemungkinan itu masih menjadi harapan yang perlu dikerjakan. Saya tidak ingin menjanjikan semuanya hanya karena sedang senang menerima karya. Merawat dengan baik dan mencatat cerita pembuatnya secara tepat merupakan pekerjaan pertama yang dapat saya jalani.
Di ruang Sunan Patoman, tulisan ini saya tempatkan sebagai bagian dari laku belajar dan berbagi. Saya berharap orang dapat mengenal Kang Bowo melalui kemampuan dan perhatian yang beliau berikan kepada karya, lalu ikut melihat bahwa menghargai budaya juga menyentuh penghidupan orang yang terus mengerjakannya.
Saya datang tanpa membawa desain. Kini sebuah wajah telah selesai dibuat. Ada lung-lungan yang berkelok, pancer yang mengingatkan arah, ketegasan yang ditempatkan di belakang, biru yang membawa kesan sumeh, dan emas yang mengingatkan cita-cita luhur—sebagaimana diceritakan Kang Bowo tentang karya ini.
Ketika suatu hari ucapan, keputusan, dan tindakan saya dijadikan pegangan oleh orang lain, apakah saya masih bersedia kembali hening, mendengar, dan mengoreksi diri?
Kang Bowo telah menyelesaikan bagian pembuat. Sekarang topeng itu menunggu saya menyelesaikan bagian pemilik.
Kenali pembuatnya melalui jagongan dan podcast bersama Kang Bondet Bowo. Dokumentasi proses dan hasil karya dapat digeser serta diperbesar pada galeri di bawah.



