Perubahan sering kita bicarakan melalui alat yang semakin canggih, pekerjaan yang semakin cepat, atau sistem yang semakin terhubung. Namun, di tengah semua itu, ada pertanyaan yang tidak selesai hanya dengan teknologi: manusia seperti apa yang sedang kita bentuk?

TEMANA: Perjalanan Membentuk Manusia di Tengah Perubahan Peradaban berangkat dari pertanyaan tersebut. Buku ini mempertemukan pengalaman pengabdian, pembelajaran kebudayaan Jawa, refleksi spiritual, kepemimpinan, dan dunia teknologi. Titik pertemuannya bukan keinginan untuk dianggap paling tahu, melainkan kesediaan untuk terus belajar menjadi manusia yang berguna.

Pengantar ini membantu pembaca mengenali arah buku. Ia bukan pengganti naskah lengkap dan tidak dimaksudkan sebagai kutipan harfiah dari setiap babnya.

Mengapa bernama TEMANA?

Dalam pemaknaan penulis, TEMANA berangkat dari kata Jawa temen: sungguh-sungguh. Penulis menghubungkannya dengan pitutur orang tua, temenana, yo, Le—sebuah ajakan agar sesuatu dijalani dengan kesungguhan. Nama TEMANA menjadi bentuk ringkas dan personal dari pengingat itu, bukan penetapan etimologi baku bahasa Jawa.

Kesungguhan di sini tidak sama dengan tuntutan menjadi sempurna. Ia dapat hadir sebagai kesediaan menyelesaikan tanggung jawab, mengakui kekeliruan, mendengar orang lain, dan mencoba kembali setelah gagal. Pengetahuan memperoleh makna ketika ikut mengubah cara kita menjalani kehidupan.

Berangkat dari pengalaman, terbuka untuk dipertimbangkan

Buku ini tumbuh dari perjumpaan penulis dengan pekerjaan pelayanan publik, pengembangan sistem informasi, masyarakat, serta pembelajaran nilai-nilai Jawa. Warisan pemikiran, termasuk pembacaan atas Serat Centhini, menjadi teman berdialog dengan persoalan masa kini.

Tradisi tidak ditempatkan hanya sebagai sesuatu yang dikenakan atau dipamerkan. Pertanyaannya lebih dekat dengan kehidupan: bagaimana menghormati orang yang membutuhkan pelayanan? Bagaimana menggunakan kewenangan tanpa merendahkan? Bagaimana membangun teknologi yang membantu manusia, bukan membuatnya semakin bergantung?

Pengalaman pribadi menjadi bahan refleksi, bukan ukuran tunggal bagi kehidupan orang lain. Pembaca tetap diajak menimbang, menguji, dan menyesuaikan gagasan dengan keadaan yang dihadapinya.

Tujuh pengingat dalam perjalanan

Tujuh istilah menjadi pintu masuk untuk mengenali gagasan TEMANA. Uraian berikut merupakan pengantar pemaknaannya dalam konteks buku, bukan definisi tunggal atas seluruh tradisi Jawa.

  • Laku: membawa pengetahuan ke dalam tindakan dan kebiasaan, bukan berhenti pada ucapan.
  • Hening: menyediakan ruang untuk mendengar dan menimbang sebelum bereaksi.
  • Titen: memperhatikan pengalaman dan pola kehidupan dengan teliti, sambil tetap terbuka terhadap koreksi.
  • Wibawa: merenungkan kepercayaan yang tumbuh dari sikap dan tanggung jawab, bukan sekadar kedudukan.
  • Sabda: menjaga hubungan antara perkataan, janji, dan tindakan.
  • Pandulu: meluaskan pandangan agar keputusan tidak hanya menjawab kepentingan sesaat.
  • Pamomong: memahami kepemimpinan sebagai upaya merawat dan membantu manusia bertumbuh.

Ketujuhnya tidak dimaksudkan sebagai daftar kelebihan yang telah dimiliki penulis. Justru semuanya dapat dibaca sebagai pengingat atas pekerjaan membentuk diri yang belum selesai.

Tradisi, teknologi, dan tanggung jawab

TEMANA mengajak pembaca mempertemukan nilai lama dengan pertanyaan baru. Kehadiran perangkat lunak dan kecerdasan buatan membuat banyak pekerjaan berubah, tetapi tidak menghapus tanggung jawab manusia atas keputusan dan dampaknya.

Bagi orang yang membangun sistem, pertanyaannya bukan hanya apakah sebuah fitur berjalan, melainkan siapa yang terbantu dan apakah orang dapat menggunakannya dengan baik. Bagi seorang pemimpin, pertanyaannya bukan hanya apakah perintah dilaksanakan, melainkan apakah manusia yang dipimpinnya memperoleh ruang untuk tumbuh.

Dalam pertemuan inilah kebudayaan dapat terus hidup: dipelajari maknanya, diuji kegunaannya, dan dijalankan dalam bentuk pengabdian yang relevan dengan zaman.

Tentang nama pena Kanjeng Sinuwun Sunan Patoman

Kanjeng Sinuwun Sunan Patoman adalah nama pena yang digunakan dalam karya tulis. Nama ini bukan klaim gelar kebangsawanan, kedudukan keagamaan, ataupun pencapaian spiritual.

Berawal dari sapaan dalam lingkar pertemanan, nama tersebut kemudian dipakai sebagai identitas berkarya dan pengingat laku. Harapannya bukan agar pribadi penulis ditempatkan lebih tinggi, melainkan agar gagasan tentang belajar, mengolah diri, berkarya, dan memberi manfaat dapat berjalan lebih jauh.

Nilai-nilai yang dibicarakan terbuka untuk dipelajari siapa saja. Tidak ada keharusan mengikuti penulis, menganggapnya sebagai guru, atau menerima semua pandangannya. Penggunaan nama pena juga tidak menghapus tanggung jawab penulis atas isi karyanya.

Yang ingin dibagikan adalah perjalanan dan bahan perenungan, bukan perintah tentang bagaimana semua orang harus hidup.

Untuk siapa buku ini?

TEMANA dapat menjadi teman membaca bagi orang yang tertarik pada kebudayaan Jawa, kepemimpinan, pelayanan masyarakat, teknologi, dan pembentukan diri. Pembaca tidak perlu lebih dahulu menguasai seluruh istilah budaya untuk mulai bertanya tentang hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

Bacalah dengan pengalaman masing-masing. Bagian yang terasa berguna dapat dibawa ke dalam tindakan kecil; bagian yang belum sesuai dapat menjadi bahan dialog. Kesungguhan belajar juga mencakup keberanian untuk tidak segera setuju.

Identitas buku dan pembelian

  • Judul: TEMANA: Perjalanan Membentuk Manusia di Tengah Perubahan Peradaban
  • Nama pena penulis: Kanjeng Sinuwun Sunan Patoman
  • Penerbit: Bukunesia
  • Tahun: 2026
  • ISBN: 978-634-272-407-1
  • Format: buku cetak

Beli buku TEMANA melalui Bukunesia Store. Harga, ketersediaan, dan ketentuan pengiriman mengikuti informasi pada toko penerbit.

Untuk melanjutkan membaca di situs ini, kunjungi Empat Mata Air TEMANA atau jelajahi ruang Wawasan. Artikel di situs merupakan ruang berbagi gagasan; pembelian buku diarahkan ke toko penerbit, bukan ke percakapan WhatsApp.

Semoga TEMANA dapat menemani pembaca bukan untuk merasa telah selesai menjadi manusia, melainkan untuk terus belajar menjalaninya dengan sungguh-sungguh.