Ungkapan Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola-Wali kadang dipakai untuk membenarkan pemimpin yang tidak mau mengubah keputusan. Seolah-olah sekali berkata, semua koreksi akan meruntuhkan kewibawaan. Tafsir seperti ini berbahaya dalam organisasi modern karena fakta dapat bertambah, risiko dapat berubah, dan keputusan manusia dapat keliru.
Sabda bukan sekadar suara yang sudah terlanjur keluar. Bobot sabda lahir dari kesatuan antara pemikiran, laku, dan kesediaan bertanggung jawab.
Teguh pada arah, lentur pada cara
Pemimpin boleh mengoreksi keputusan ketika menemukan data baru. Bahkan dalam keadaan tertentu, menolak koreksi justru merupakan bentuk ketidakbertanggungjawaban. Yang tidak patut adalah mengubah arah hanya karena tekanan sesaat, kepentingan pribadi, atau keinginan memperoleh tepuk tangan.
Ada perbedaan antara:
- memperbaiki keputusan karena fakta baru dan mengingkari janji demi kenyamanan;
- menjelaskan perubahan secara terbuka dan berpura-pura tidak pernah berkata lain;
- menyesuaikan cara untuk menjaga tujuan dan mengganti tujuan karena takut menanggung risiko.
Pemimpin yang matang dapat berkata: keputusan sebelumnya dibuat dari informasi yang tersedia, fakta baru menunjukkan risiko yang berbeda, dan karena itu langkah perlu diperbaiki. Kalimat seperti itu tidak menunjukkan kelemahan. Ia menunjukkan adanya akal sehat dan akuntabilitas.
Inflasi kata
Setiap janji yang diumbar tetapi tidak dijaga menurunkan nilai ucapan berikutnya. Lama-kelamaan organisasi mengalami inflasi kata: arahan tetap diberikan, slogan terus dipasang, tetapi orang tidak lagi percaya bahwa semuanya akan menjadi tindakan.
Sabda menjadi berat bukan karena diucapkan oleh orang berpangkat, melainkan karena ada kehidupan yang berani menanggungnya.
Di zaman media sosial, manusia dapat membuat pernyataan dalam hitungan detik. AI bahkan dapat menyusun kalimat yang terdengar sangat meyakinkan. Namun kata yang indah tidak otomatis menjadi sabda. Sabda membutuhkan pemilik yang hadir ketika konsekuensinya datang.
Maka menjaga sabda bukan membekukan diri pada setiap kalimat lama. Ia berarti berhati-hati sebelum berjanji, jujur ketika keadaan berubah, dan tidak meninggalkan tanggung jawab setelah keputusan diumumkan. Keteguhan sejati tidak takut pada koreksi; ia takut kehilangan arah moral.
